RUMAHBOLA - Kasus match-fixing saat ini kembali mencuat di sepakbola Indonesia. Selaku pelatih yang sudah sangat berpengalaman, Rahmad Darmawan (RD), pun mengakui pernah ditawari untuk melakukan hal tersebut.

Pelatih Mitra Kukar itu mengungkapkan, hal itu terjadi ketika dirinya masih melatih Sriwijaya FC pada 2009 lalu. Namun kala itu situasinya Laskar Wong Kito sedang ikut Liga Champions Asia (LCA) 2009.


"Kami waktu itu partai melawan Shandong Luneng (klub Tiongkok) di kandang. Waktu itu kami sedang telat gajian setengah bulan dan mereka menawarkan membayar senilai tunggakan itu sekitar Rp1,5 miliar. Orang yang telepon saya minta ketemu, saya tidak mau. Kemudian telepon lagi dan mereka ingin kami mengalah," beber RD.

"Waktu itu kami kalah atau menang sudah tak berpengaruh. Tapi alhamdulillah kami menang 4-2, sehingga Shandong Luneng gagal lolos dari fase grup dan digeser oleh FC Seoul."

"Dia (orang yang menawarkan) mengakunya orang Indonesia tapi berteman dengan pihak Shandong Luneng. Saya waktu itu langsung ngobrol sama tim pelatih dan pemain, saya jelaskan untuk jangan sampai kalah, kita fight. Mereka sempat unggul dulu saya kaget dan takut ada anggapan macam-macam. Tapi alhamdulilah kami bisa menang," tuturnya.

Lebih lanjut, mantan pelatih Persipura Jayapura dan Persija Jakarta itu mengimbau agar semua pihak yang memiliki bukti mengenai pengaturan pertandingan bisa langsung melaporkannya kepada pihak yang berwenang.

"Kini juga sudah saatnya PSSI menjalin kerja sama dengan pihak berwajib (kepolisian), supaya kepercayaan masyarakat pulih terhadap federasi. Jadi memang harus ada semacam tim khusus untuk mengusut kejadian dalam tanda kutip dianggap satu jalan untuk menyelesaikan kasus ini," pungkasnya.